Jumat, 18 November 2016




Indonesia emas 2045, Yakin sam ?

                Sudah hampir satu abad Indonesia merdeka, berdiri seolah tanpa kaki yang kuat, hingga sempoyong membawa namanya sendiri. Lahir dengan cita cita mulia membawa nama pancasila dan embel embel bhineka. Indonesiaku, malangnya nasibmu ketika tau 85% tambang minyakmu bukan lagi hak milikmu, entah digadai oleh siapa ? oleh baginda yang mulia ? atau mereka para pembawa tahta.
                Belasan ribu pulaumu, ratusan juta rakyatmu entah kemana? Apakah Indonesia kekurangan Sumber daya alam ? apa Indonesia kekurangan sumber daya manusia? Apakah Indonesia kekutangan orang pintar? Jawabannya TIDAK ! Indonesia kekurangan orang jujur. Mereka yang jujur, baik dan anti kemunafikan hilang begitu saja seolah tidak punya andil besar untuk negaranya seolah tidak punya hak suara dan tidak punya kesempatan yang sama. Mereka dihantam oleh system yang dibuat oleh baginda. Mereka dibunuh oleh politik yang pro dengan kemapanan untuk mereka sendiri
                Malangnya nasibmu seperti kusut merah putihku diterpa badai, tsunami, dan banjir bandang. Lihat tetanggamu diumur jagung mereka dengan cepat memperbaiki sarana prasarana pendidikan. Lalu kalau ditanya kemana negaraku ? kemana macan asiaku ? jawabannya hanya TIDUR ? lalu kapan Indonesia ku bangun ? kapan indonesiaku mengaum di asia ? siapa yang membangunkanmu ? jawabannya wallahualam. Dirimu bagai hidup enggan mati takmau. Jangan pernah berharap kamu jadi macan asia kalau beras saja impor Myanmar, jangan anggap macan asia kallau buah buahan ambil dari china. Lalu kemana petani ?
                Jangankan seribu kata yang akan aku ceritakan padamu tentang negaraku, seumur hidupmu tak akan cukup jika aku menceritakan setiap jengkal tragisnya negaraku. Saat dihantam bencana, dimana bhineka? Jika banyak orang yag saling mencaci agama satu sama lain. Apa guna sila pertama jika atheis, komunis dan agnostic masih berkeliaran di perut NKRI. Aku berharap indonesiaku masih hidup jiwa dan raga pahlawan ratusan ribu nyawa hilang selama 350 tahun ditangan belanda, 5 tahun ditangan jepang.
                Kamu ibarat kapal tua yang berlayar tanpa arah arahnya ada Cuma nahkoda kita yang tidak bisa membaca, Indonesia seperti kapal tua penumpang berbagai rupa dari Sumatra jawa hingga papua bersatu jadi Nusantara. 6 kali ganti nahkoda masih saja jauh dari sejahtera. Duh Indonesia ku, mau kapan lagi kamu bangun? Aku berharap presiden sekarang memang nahkoda sebenarnya bukan boneka amerika, ini lah cerita kapal tua kita. Satu ibu pertiwi hanya sebatas kata. Tidak ada sajak tidak ada frasa tercipta. Jika mungkin soekarno lahir kembali, dia akan menangis menangisi anak nya mega yang gila harta, mungkin jika soeharto lahir dia juga akan menangis melihat jantung papua yang digerus habis Freeport. Bahkan, jika gus dur lahir pun ia akan mennagis melihat gereja yang hangus dibakar dan di bom. Ini kah bhineka ? kemanakah nurani manusia berada ? kemanakah panji panji kehormatan tentang bhineka dan pancasila ?
                Andaikan amerika dan antek anteknya tidak pernah diciptakan tuhan. Maka kita akan bisa melihat ratusan ribu pulau yang megah dengan gedung belasan lantai. Kemakmuran dimana mana, tidak akan pernah ada pengemis di jalanan bahkan pengemis jabatan. Jika saja Suharto tidak akan pernah ada di Indonesia, kita masih bisa melihat potensi Freeport. Kita masih bisa lihat indahnya papua dan wamena. Jika saja mereka tidak ada. Sudahlah Indonesia 2045 sebentar lagi, apa yang kamu mau berikan? Kami sebagai mahasiswa yang hidup dari APBN dan menjadi bebanmu tentunya akan berjuang untuk namamu, diatas semua kepentingan. Negara adalah segalanya seperti nyawa.
                Jika anda pembaca berpikir bahwa saya adalah pemberontak. Anda salah besar. Saya adalah bukti nyata seorang pemuda yang rela mati untuk negaranya berkorban demi sebuah nama Indonesia di dada dan bendera merah putih berkibar di Istana. Negaraku, dimana pemerintahanmu saat aku membawa namamu bertanding di event internasional? Dimana uang uang pajak ribuan triliun yang kamu bangga banggakan. Sudah selayaknya setiap pelajar yang membawa nama negaranya untuk mendapat suntikan dan bantuan dana. Tap apa? Aku harus berjuan g sekuat tenaga untuk tetap membawa bendera merah putih ke pentas dunia. Tanpa embel embel pemerintah aku tetap bangga membawa negaraku di pentas dunia.

                Mungkin saat ini aku belum bisa memberimu sebuah penghargaan, tapi aku berjanji untuk terus memperjuangkanmu dimanapun kamu berada. Untuk selalu setia bersamamu. Hingga titik darah habisku.