Indonesia emas 2045,
Yakin sam ?
Sudah
hampir satu abad Indonesia merdeka, berdiri seolah tanpa kaki yang kuat, hingga
sempoyong membawa namanya sendiri. Lahir dengan cita cita mulia membawa nama
pancasila dan embel embel bhineka. Indonesiaku, malangnya nasibmu ketika tau
85% tambang minyakmu bukan lagi hak milikmu, entah digadai oleh siapa ? oleh
baginda yang mulia ? atau mereka para pembawa tahta.
Belasan
ribu pulaumu, ratusan juta rakyatmu entah kemana? Apakah Indonesia kekurangan
Sumber daya alam ? apa Indonesia kekurangan sumber daya manusia? Apakah Indonesia
kekutangan orang pintar? Jawabannya TIDAK ! Indonesia kekurangan orang jujur. Mereka
yang jujur, baik dan anti kemunafikan hilang begitu saja seolah tidak punya
andil besar untuk negaranya seolah tidak punya hak suara dan tidak punya
kesempatan yang sama. Mereka dihantam oleh system yang dibuat oleh baginda. Mereka
dibunuh oleh politik yang pro dengan kemapanan untuk mereka sendiri
Malangnya
nasibmu seperti kusut merah putihku diterpa badai, tsunami, dan banjir bandang.
Lihat tetanggamu diumur jagung mereka dengan cepat memperbaiki sarana prasarana
pendidikan. Lalu kalau ditanya kemana negaraku ? kemana macan asiaku ? jawabannya
hanya TIDUR ? lalu kapan Indonesia ku bangun ? kapan indonesiaku mengaum di
asia ? siapa yang membangunkanmu ? jawabannya wallahualam. Dirimu bagai hidup
enggan mati takmau. Jangan pernah berharap kamu jadi macan asia kalau beras
saja impor Myanmar, jangan anggap macan asia kallau buah buahan ambil dari
china. Lalu kemana petani ?
Jangankan
seribu kata yang akan aku ceritakan padamu tentang negaraku, seumur hidupmu tak
akan cukup jika aku menceritakan setiap jengkal tragisnya negaraku. Saat dihantam
bencana, dimana bhineka? Jika banyak orang yag saling mencaci agama satu sama
lain. Apa guna sila pertama jika atheis, komunis dan agnostic masih berkeliaran
di perut NKRI. Aku berharap indonesiaku masih hidup jiwa dan raga pahlawan
ratusan ribu nyawa hilang selama 350 tahun ditangan belanda, 5 tahun ditangan
jepang.
Kamu
ibarat kapal tua yang berlayar tanpa arah arahnya ada Cuma nahkoda kita yang
tidak bisa membaca, Indonesia seperti kapal tua penumpang berbagai rupa dari Sumatra
jawa hingga papua bersatu jadi Nusantara. 6 kali ganti nahkoda masih saja jauh
dari sejahtera. Duh Indonesia ku, mau kapan lagi kamu bangun? Aku berharap
presiden sekarang memang nahkoda sebenarnya bukan boneka amerika, ini lah
cerita kapal tua kita. Satu ibu pertiwi hanya sebatas kata. Tidak ada sajak
tidak ada frasa tercipta. Jika mungkin soekarno lahir kembali, dia akan
menangis menangisi anak nya mega yang gila harta, mungkin jika soeharto lahir
dia juga akan menangis melihat jantung papua yang digerus habis Freeport. Bahkan,
jika gus dur lahir pun ia akan mennagis melihat gereja yang hangus dibakar dan
di bom. Ini kah bhineka ? kemanakah nurani manusia berada ? kemanakah panji
panji kehormatan tentang bhineka dan pancasila ?
Andaikan
amerika dan antek anteknya tidak pernah diciptakan tuhan. Maka kita akan bisa
melihat ratusan ribu pulau yang megah dengan gedung belasan lantai. Kemakmuran dimana
mana, tidak akan pernah ada pengemis di jalanan bahkan pengemis jabatan. Jika
saja Suharto tidak akan pernah ada di Indonesia, kita masih bisa melihat
potensi Freeport. Kita masih bisa lihat indahnya papua dan wamena. Jika saja
mereka tidak ada. Sudahlah Indonesia 2045 sebentar lagi, apa yang kamu mau
berikan? Kami sebagai mahasiswa yang hidup dari APBN dan menjadi bebanmu
tentunya akan berjuang untuk namamu, diatas semua kepentingan. Negara adalah
segalanya seperti nyawa.
Jika
anda pembaca berpikir bahwa saya adalah pemberontak. Anda salah besar. Saya
adalah bukti nyata seorang pemuda yang rela mati untuk negaranya berkorban demi
sebuah nama Indonesia di dada dan bendera merah putih berkibar di Istana.
Negaraku, dimana pemerintahanmu saat aku membawa namamu bertanding di event
internasional? Dimana uang uang pajak ribuan triliun yang kamu bangga
banggakan. Sudah selayaknya setiap pelajar yang membawa nama negaranya untuk
mendapat suntikan dan bantuan dana. Tap apa? Aku harus berjuan g sekuat tenaga
untuk tetap membawa bendera merah putih ke pentas dunia. Tanpa embel embel
pemerintah aku tetap bangga membawa negaraku di pentas dunia.
Mungkin
saat ini aku belum bisa memberimu sebuah penghargaan, tapi aku berjanji untuk terus
memperjuangkanmu dimanapun kamu berada. Untuk selalu setia bersamamu. Hingga titik
darah habisku.